Sejarah Kampung Mlaswat

1782962046669.jpg

Era Pra-Kampung (Kehidupan Ber-Marga)

Awal Mula: Suku Afsajo dan Sre’afat awalnya hidup terpisah per marga di tanah ulayat masing-masing (Kakrok mrew wwat kje kakrok mrew wa). Tidak ada pemimpin formal, melainkan dipimpin oleh tua-tua marga, Wyon, dan Mimit yang menjaga alam lewat prinsip adat "Tanak" (satu tempat makan, minum, dan pendidikan).

Perkumpulan Awal: Masyarakat mulai berkumpul pertama kali di Aftayi (dipelopori Ortuan W’arefe), lalu berpindah-pindah ke Balbik ksirin, Krarolo, hingga menetap di Mkriokolo dan Tirwangko (1939–1940).

Kehilangan Pemimpin: Setelah para pemimpin di Mkriokolo meninggal, warga Aftayi sempat kehilangan arah hingga mendapat hukuman dari Kepala Kampung Sirata (Wornemin Yable). Secara mendadak, Flew’a W’arefe ditunjuk menjadi pemimpin, yang tak lama kemudian menyerahkan kepemimpinan kepada Yohan Wagarefe.

Periode Dusun Kmangko (1953 – 1963)

Perpindahan (1953): Dipicu oleh masalah sosial di Mkriokolo, seluruh warga Aftayi sepakat mengangkat kaki dan bermigrasi ke dusun ulayat mereka di Kmangko (sekarang Komanggo).

Struktur Aparat Waktu Itu (1954):

1. Kepala Dusun: Yohan Wagarefe

2.Togama (Gembala Adat/Masyarakat): Hendrik Lolon Krimadi

Peralihan Kepemimpinan (1961): Yakob Krimadi diangkat menjabat sebagai Kepala Kampung Komanggo menggantikan Yohan Wagarefe.

Pembukaan Lahan (1961–1962): Lahan perkebunan kelapa di lokasi Mlaswat mulai dibuka setelah Stepanus Kombado (pemilik tanah) merelakan lokasi tersebut.

Lahirnya Kampung Mlaswat & Masa Hukuman (1963)

Peristiwa Hukuman (April 1963): Niat warga untuk pindah ke lokasi baru (Mlaswat) diketahui oleh pemerintah di Teminabuan. Akibatnya, Kepala Kampung Yakob Krimadi dan warga dijatuhi hukuman fisik selama satu minggu di Teminabuan (hormat bendera satu tangan tutup telinga, angkat sampah, dan memikul barang tentara ke Ayamaru).

Perpindahan Resmi: Anggap saja hukuman tersebut sebagai "harga pelunasan" tanah kampung baru. Setelah hari raya Paskah April 1963, seluruh warga Komanggo resmi pindah dan mendirikan Kampung Mlaswat.

Pengakuan Lisan (1 Agustus 1963): Pemukiman baru Mlaswat yang sempat diragukan pemerintah, akhirnya resmi diakui secara lisan sebagai kampung.

Pembangunan Infrastruktur (1968–1970): Gotong royong penebangan hutan dipimpin Kepala Kampung Yakob Krimadi dan dibantu kader Orde Baru (Saul Sagisolo), serta diawasi ketat oleh TNI Pattimura pos Sisir (Komandan Salaputa & Kayapatty) untuk membangun gedung SD 6 kelas.

Era Penggabungan Paksa / Mlaswat 1 & 2 (1973 – 1977)

September 1973: Berdasarkan program "Gaya Baru" (penggabungan kampung kecil), warga Kampung Kwowok dipindahkan secara paksa ke Mlaswat oleh aparat keamanan (Sersan Agus Obinaru & Kopral Mahuse). Rumah mereka dibakar dan ternak ditembak.

Dampak: Kampung dikenal dengan nama Mlaswat 1 dan Mlaswat 2 dari tahun 1973 sampai 1977.

Sistem Induk Desa (1974): Berdasarkan peraturan pemerintah, Mlaswat 1 dan Mlaswat 2 diturunkan statusnya menjadi dusun bawahan yang bernaung di bawah Induk Desa Manggroholo (Kepala Desa: Gustap Srefle, Sekdes: Kornelius Kemesrar).Warga Mlaswat bergotong royong memikul kayu merbau untuk membangun Kantor Desa Manggroholo.

4 Juni 1977: Yakob Krimadi secara resmi diberhentikan dengan hormat sebagai kepala kampung lama melalui SK Bupati KDH Tk.II Sorong No.19/SRG/1977 bersama kepala kampung lainnya di Distrik Seremuk. Warga Kwowok kemudian kembali ke tempat asal mereka pada 1993.

Era Desa Definitif Mlaswat & Anggaran Pertama (1992 - 1993)

12 Januari 1992: Pemilihan Kepala Desa Mlaswat dilakukan secara aklamasi.

5 Juni 1992 (Status Definitif): Dusun Mlaswat resmi naik status menjadi Desa Definitif melalui penyerahan SK Gubernur KDH Tk.I Irian Jaya No. 433 (tertanggal 20 Desember 1991).

Aparat Desa Pertama (1992):

1. Kepala Desa: Yohosua Kemesrar

2. Sekretaris Desa: Agustinus Sremere Woloin

3. Kaur Pemerintahan: Kostan Sremere

4. Kaur Pembangunan: Moses Kaliele

5. Kaur Umum: Eduart Kareth

6. Kaur Kesra: Hebert Wagarefe

(Pelantikan resmi dilakukan pada Selasa, 21 Agustus 1992 di Teminabuan).

Pembangunan Balai Desa (13 Januari 1993): Peletakan batu pertama dilakukan oleh Zadrak Krimadi (Kepala Desa Manggroholo) atas nama pemerintah.

Anggaran Bangdes Pertama (4 Juli 1993): Desa Mlaswat menerima dan membagikan Anggaran Bantuan Desa (Bangdes) pertama kalinya dengan total Rp 5.600.000,- dengan rincian:

  1. Dana Bangdes: Rp 4.500.000,-
  2. Dana PKK: Rp 900.000,-
  3.  Dana LKMD: Rp 200.000,-
  4. Pemanfaatan Dana: Dibelanjakan 100 pohon bibit jeruk (dari SP 2 Mariyai) dan 95 pohon Kelapa Hibrida (dari Aimas) untuk ditanam di tanah kas desa (daerah Nanis & Muara Awa), membeli peralatan pertanian, serta biaya transportasi dinas aparat. Sisa Rp 500.000,- disimpan di BRI Teminabuan untuk bantuan dana pesta kampung/gereja.

Perkembangan Modern Modern (2009 - 2018)

  1. Maret 2009: Akses jalan mulai terbuka, ditandai dengan mobil pertama yang berhasil masuk ke Kampung Mlaswat.
  2. Agustus 2015: Pemasangan jaringan tiang listrik dimulai dari Srer sampai Manggroholo.
  3. 23 Desember 2016: Penerangan resmi masuk kampung, lampu PLN menyala pertama kali di Mlaswat.
  4. Tahun 2016 & 2017: Pemekaran wilayah internal kampung:
    1. Mekanisme musyawarah memekarkan Dusun Awa (Kepala Dusun: Matias Wagarefe).
    2. Mekanisme musyawarah memekarkan Dusun Aftayi (Kepala Dusun: Abner Kemesrar).
  5. Juni 2018: Fasilitas air bersih resmi masuk ke perumahan Kampung Mlaswat melalui bantuan tenaga Dap.
Bagikan post ini: