Paling Banyak Dilihat
Sejarah Kampung Mlaswat
Era Pra-Kampung (Kehidupan Ber-Marga)
Awal Mula: Suku Afsajo dan Sre’afat awalnya
hidup terpisah per marga di tanah ulayat masing-masing (Kakrok mrew wwat kje
kakrok mrew wa). Tidak ada pemimpin formal, melainkan dipimpin oleh tua-tua
marga, Wyon, dan Mimit yang menjaga alam lewat prinsip adat "Tanak"
(satu tempat makan, minum, dan pendidikan).
Perkumpulan Awal: Masyarakat mulai berkumpul
pertama kali di Aftayi (dipelopori Ortuan W’arefe), lalu berpindah-pindah ke
Balbik ksirin, Krarolo, hingga menetap di Mkriokolo dan Tirwangko (1939–1940).
Kehilangan Pemimpin: Setelah para pemimpin di
Mkriokolo meninggal, warga Aftayi sempat kehilangan arah hingga mendapat
hukuman dari Kepala Kampung Sirata (Wornemin Yable). Secara mendadak, Flew’a
W’arefe ditunjuk menjadi pemimpin, yang tak lama kemudian menyerahkan
kepemimpinan kepada Yohan Wagarefe.
Periode Dusun Kmangko (1953 – 1963)
Perpindahan (1953): Dipicu oleh masalah sosial
di Mkriokolo, seluruh warga Aftayi sepakat mengangkat kaki dan bermigrasi ke
dusun ulayat mereka di Kmangko (sekarang Komanggo).
Struktur Aparat Waktu Itu (1954):
1. Kepala Dusun: Yohan Wagarefe
2.Togama (Gembala Adat/Masyarakat): Hendrik
Lolon Krimadi
Peralihan Kepemimpinan (1961): Yakob Krimadi
diangkat menjabat sebagai Kepala Kampung Komanggo menggantikan Yohan Wagarefe.
Pembukaan Lahan (1961–1962): Lahan perkebunan
kelapa di lokasi Mlaswat mulai dibuka setelah Stepanus Kombado (pemilik tanah)
merelakan lokasi tersebut.
Lahirnya Kampung Mlaswat & Masa Hukuman
(1963)
Peristiwa Hukuman (April 1963): Niat warga
untuk pindah ke lokasi baru (Mlaswat) diketahui oleh pemerintah di Teminabuan.
Akibatnya, Kepala Kampung Yakob Krimadi dan warga dijatuhi hukuman fisik selama
satu minggu di Teminabuan (hormat bendera satu tangan tutup telinga, angkat
sampah, dan memikul barang tentara ke Ayamaru).
Perpindahan Resmi: Anggap saja hukuman
tersebut sebagai "harga pelunasan" tanah kampung baru. Setelah hari
raya Paskah April 1963, seluruh warga Komanggo resmi pindah dan mendirikan
Kampung Mlaswat.
Pengakuan Lisan (1 Agustus 1963): Pemukiman
baru Mlaswat yang sempat diragukan pemerintah, akhirnya resmi diakui secara
lisan sebagai kampung.
Pembangunan Infrastruktur (1968–1970): Gotong
royong penebangan hutan dipimpin Kepala Kampung Yakob Krimadi dan dibantu kader
Orde Baru (Saul Sagisolo), serta diawasi ketat oleh TNI Pattimura pos Sisir
(Komandan Salaputa & Kayapatty) untuk membangun gedung SD 6 kelas.
Era Penggabungan Paksa / Mlaswat 1 & 2
(1973 – 1977)
September 1973: Berdasarkan program "Gaya
Baru" (penggabungan kampung kecil), warga Kampung Kwowok dipindahkan
secara paksa ke Mlaswat oleh aparat keamanan (Sersan Agus Obinaru & Kopral
Mahuse). Rumah mereka dibakar dan ternak ditembak.
Dampak: Kampung dikenal dengan nama Mlaswat 1
dan Mlaswat 2 dari tahun 1973 sampai 1977.
Sistem Induk Desa (1974): Berdasarkan
peraturan pemerintah, Mlaswat 1 dan Mlaswat 2 diturunkan statusnya menjadi
dusun bawahan yang bernaung di bawah Induk Desa Manggroholo (Kepala Desa:
Gustap Srefle, Sekdes: Kornelius Kemesrar).Warga Mlaswat bergotong royong
memikul kayu merbau untuk membangun Kantor Desa Manggroholo.
4 Juni 1977: Yakob Krimadi secara resmi
diberhentikan dengan hormat sebagai kepala kampung lama melalui SK Bupati KDH
Tk.II Sorong No.19/SRG/1977 bersama kepala kampung lainnya di Distrik Seremuk.
Warga Kwowok kemudian kembali ke tempat asal mereka pada 1993.
Era Desa Definitif Mlaswat & Anggaran
Pertama (1992 - 1993)
12 Januari 1992: Pemilihan Kepala Desa Mlaswat
dilakukan secara aklamasi.
5 Juni 1992 (Status Definitif): Dusun Mlaswat
resmi naik status menjadi Desa Definitif melalui penyerahan SK Gubernur KDH
Tk.I Irian Jaya No. 433 (tertanggal 20 Desember 1991).
Aparat Desa Pertama (1992):
1. Kepala Desa: Yohosua Kemesrar
2. Sekretaris Desa: Agustinus Sremere Woloin
3. Kaur Pemerintahan: Kostan Sremere
4. Kaur Pembangunan: Moses Kaliele
5. Kaur Umum: Eduart Kareth
6. Kaur Kesra: Hebert Wagarefe
(Pelantikan resmi dilakukan pada Selasa, 21
Agustus 1992 di Teminabuan).
Pembangunan Balai Desa (13 Januari 1993):
Peletakan batu pertama dilakukan oleh Zadrak Krimadi (Kepala Desa Manggroholo)
atas nama pemerintah.
Anggaran Bangdes Pertama (4 Juli 1993): Desa
Mlaswat menerima dan membagikan Anggaran Bantuan Desa (Bangdes) pertama kalinya
dengan total Rp 5.600.000,- dengan rincian:
- Dana Bangdes: Rp 4.500.000,-
- Dana PKK: Rp 900.000,-
- Dana LKMD: Rp 200.000,-
- Pemanfaatan Dana: Dibelanjakan 100 pohon
bibit jeruk (dari SP 2 Mariyai) dan 95 pohon Kelapa Hibrida (dari Aimas) untuk
ditanam di tanah kas desa (daerah Nanis & Muara Awa), membeli peralatan
pertanian, serta biaya transportasi dinas aparat. Sisa Rp 500.000,- disimpan di
BRI Teminabuan untuk bantuan dana pesta kampung/gereja.
Perkembangan Modern Modern (2009 - 2018)
- Maret 2009: Akses jalan mulai terbuka,
ditandai dengan mobil pertama yang berhasil masuk ke Kampung Mlaswat.
- Agustus 2015: Pemasangan jaringan tiang
listrik dimulai dari Srer sampai Manggroholo.
- 23 Desember 2016: Penerangan resmi masuk
kampung, lampu PLN menyala pertama kali di Mlaswat.
- Tahun 2016 & 2017: Pemekaran wilayah
internal kampung:
- Mekanisme musyawarah memekarkan Dusun Awa (Kepala Dusun: Matias Wagarefe).
- Mekanisme musyawarah memekarkan Dusun Aftayi (Kepala Dusun: Abner Kemesrar).
- Juni 2018: Fasilitas air bersih resmi masuk ke perumahan Kampung Mlaswat melalui bantuan tenaga Dap.
Baca juga:
Kampung Mlaswat Kabupateng Sorong selatan
Kampung Mlaswat Kabupateng Sorong selatan